“Ma, kenapa mama harus nikah lagi?Apa mama ga sayang Ana ma Angga? Rutukku dalam kesunyian malam. Malam itu aku menangis dan menangis hingga kantuk menghampiriku.
Beberapa hari yang lalu mama melangsungkan pernikahannya dengan lelaki yang bernama Herman, lelaki terkaya dikotaku. Entah dari mana asalnya mama bisa berpikiran untuk menikah lagi. Padahal sejak papa pergi dengan wanita lain 10 tahun yang lalu mama tidak pernah terlihat kesepian. Mungkin mama lelah merawat aku dan Angga seorang diri, tapi apa harus menikah lagi untuk menghilangkan kelelahannya?.
Herman melangkah kearah meja makan, sekilas kulihat senyumnya untuk mama. Senyum yang kubenci. “An, ditambah lagi dong makannya” Ucap mama mengagetkanku. “Udah ma, udah kenyang” Jawabku tanpa semangat. “Udah ya ma?aku berangkat dulu, yuuk Ga”Ucapku pada adikku.
Diperjalanaan tak banyak yang kukatakan padahal biasanya saat-saat seperti ini kami paling suka main tebak-tebakan.
“Kak, kemarin papa marah-marah ma adik terus mukulin adik, katanya adik ga becus ngerawat burung dara peliharaannya papa”. Aku kaget tak kusangka orang itu begitu berani mukul adik aku. “Adik yang sabar ya? Nanti kakak cariin jalan keluar buat kita semua” Ucapku menghibur Angga. Brengsek rutukku dalam hati. Beraninya dia mukul adik,mugkin aku bisa bersabar saat dia menamparku ketika aku lupa mencuci bajunya tapi aku tak bisa bersabar kalau adik yang disakiti.
“ Ana,Angga? Ngapai kalian disitu?Masuk,,Dasar anak ga tau diri bukannya kerja malah maen” Bentak Herman
“Sebantar Pa, kami masih ngerapiin tanaman”Jawab adikku
Herman melangkah kearah kami, ada rasa takut menjalari seluruh tubuhku.
Dipungutnya sebatang kayu yang tergeletak didekat kaki adekku.
”Kalian mau melawan perintahku?” Tanyanya sambil memukulkan kayu itu kebetis kami nerdua. ”Ampun Pa, ampun ”Suara adikku memohon sambil menangis. Kutahan rasa sakit ini demi melindungi adikku.
”Pa, hentikan” Teriak mama tergopoh-gopoh dari dalam rumah. ”Apa yang Papa lakukan?”. Tanya mama sembari mengelus kepala kami.
”Cuma sekedar memberi sedikit pelejaran kepada mereka berdua agar tidak membantah perintah orang tua” Jawabnya
”Maafkan papa kalian ya? Mungkin dia lagi stres karena perusahaan bangkrut”.
Ucapnya sambil memapah tubuhku dan Dirga kedalam rumah. ”Gapapa ko ma,mungkin tadi emang salah Ana makanya papa marah”. Ujarku manahan sakit.
Aku tak tega ngomong sejujurnya ma mama, Aku tak ingin dia merasa terbebani dengan ini semua. Aku tak ingin membuat mama tertekan karna lelaki pilahannya ternyata bukan lelaki yang baik.
Sakit ditubuhku masih sangat terasa, kutahan sakitnya. Kuseret langkahku menuju kamar Angga. Perlahan kubuka kamar Angga, kulihat Angga tertelungkup,tubuhnya bergetar mungkin menahan isak tangisnya. ”Dek, maafin kakak y? kakak ga bisa ngelindungin adek” Kataku sambil duduk disisi ranjang Angga. Angga membalikkan badan. ”Ga kak, bukan salah kakak. Harusnya Angga yang ngelindungin kakak sebagai anak laki-laki bukan kakak” Jawabnya. Muka Angga memerah, kuelus dadanya berusaha menenangkan gemuruh didadanya.
Sore sepulang latihan basket, Kukudengar tangisan mama sambil berteriak, ”Hentikan,,,jangan sakiti dia”. Jantungku berdegup kencang, buru-buru kubuka pintu yang tak terkunci. Kulihat mama berusaha melepaskan tangan Herman dari leher Angga yang tampak tersengal-sengal. Herman mendorong tubuh mama hingga terlempar dan membentur tembok.
Aku berlari kearah Herman, mencoba melepaskan cekikannya. ”Pa, kumohon jangan sakiti Angga pa. Kalo papa marah pukul Ana saja, Ana mohon lepasin Angga pa,,”. Herman menatapku dengan tatapan tajam, dia lepaskan Angga. Kulihat mama memeluk Angga. ”Oh,,, Udah berani nantang ya sekarang???”. Tanyanya sambil memberikan bogem mentah padaku, Jelas aku kehilangan keseimbangan. ”Mau jadi pahlawan?” tanyanya sambil terus memukulku. ”Ampun pa” Mohonku, kurasan darah segar mengalir dari dahiku yang dibenturkan Herman ketembok.
Entah kenapa Herman berhenti memukuli tubuhku yang berlumuran darah. Tapi sebagai gantinya dia memukul Angga secara membabi buta. Mama menangis sambil merangkul Angga. Melihat Angga dan mama yang meringis kesakitan, tiba-tiba rasa sakitku hilang digantikan kemarahan yang meluap-luap. Kuedarkan pandangan kesekeliling ruangan, Kulihat pisau yang tergeletak dimeja makan.
”Hentikan biadab”. Teriakku sambil mengayunkan pisau yang kupegang, Herman tersentak kaget tapi sedetik kemudian dia menghindar dari pisau yang kuayunkan, sehingga hanya lengannya yang terluka. Herman berusaha mengambil pisau yang kupegang tapi secepat kilat aku arahkan pisau itu kedadanya, dalam sekejap baju Herman sudah berlumuran darah. Masih belum puas, aku tebaskan lagi pisau itu kearah bahunya.
Herman berlari keluar, dengan langkah terseok-seok Herman berlari sekuat tenaga.
Tiga hari kemudian Headline sebuah koran dijakarta menulis sebuah berita.
PENGUSAHA HANYUTKAN DIRI DI ANCOL
Seorang laki-laki ditemukan tewas dijembatan ancol. Laki-laki yang diduga bernama Herman Setyareja (35) tersebut diduga tewas bunuh diri dengan cara terjun dari jembatan ancol lantaran merasa frustasi karena beberapa bulan ysng lalu perusahaannya bangkrut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar