Selasa, 24 Mei 2011

BOCAH DALAM BUS

Bus jurusan Malang-Surabaya masih terlihat sesak seperti biasanya, suara sumbang pengamen menemani penumpang yang lelah mengikuti arus kehidupan kota dan pedagang berjejal berebut menjajakan dagangannya. Rini seperti biasa hanya tersenyum sinis pada pengamen dan pedagang. mengganggu saja, ucap Rini dalam hati.
“ikhlas dari kalian, halal bagi kami” Ucap seorang bocah setelah menyanyikan lagu yang menceritaka pahitnya hidup anak jalanan. Menjual cerita bohong demi mendapatkan uang, Pikir Rini.
“Mbak recehnya”.Ucap pengamen mengganggu ketenangan tidurku yang baru sejenak. “ga ada”. Jawabku ketus. Kuedarkan pandanganku kesetiap sudut bus masih kulihat bocah tadi terduduk dipojok bus.
“Terminal Bungur, Terminal terakhir” Ucap kondektur. Aku buru-buru turun kepenatan bus membuatku ingin lebih cepat sampai dirumah.
“Mbak, tunggu” Teriak bocah itu, Aku makin mempercepat langkahku, tak kupedulikan teriakan anak itu yang semakin sayup kudengar.

“Sumpah dengan kejadian ini aku semakin benci sama pengamen dan pedagang dalam bis” Ucapku berapi-api setelah menceritakan tragedi hilangnya dompetku 2 bulan yang lalu pada sahabatku-Fika
“Tapi kan belum tentu mereka yang ngambil Rin” Ucap Fika, selalu jawaban yang sama tiap aku menceritakan kejadian itu. “siapa tau jatuh dijalan” Tambahnya.
“Tapi aku yakin banget ko kalo mereka yang ngambil” Ucapku ngotot

Syang, kpan plang?
kan dah 2Bln g plang
ma2 kngen
Sms dari mama, selalu seperti itu. Padahal baru 2 bulan udah disuruh pulang. pikirku

Rini jg kngn m ma2
Insya allah sbtu bsok
Rini plag ko.

“Mama sms, aku disuruh pulang. Kamu ikut ya sabtu besok?” Ucapku pada Fika
“Insya allah” Jawabnya

Ditengah perjalanan seorang bocah masuk kedalam bus. Anak yang waktu itu, pikirku. Seperti biasa setelah bernyanyi anak itu berjalan menyodorkan topi bututnya.
Tiba-tiba anak itu memandangku begitu lekat.
“Mbak,Tunggu” Terdengar suara dari belakang
“Rin, kayaknya ada yang manggil kamu” Ucap Fika sambil menoleh
“Biarin aja, Paling orang iseng” Ucapku
“Rini Tunggu, pengamen dalam bus tadi mengejar kita”Ucap Fika.
”Siapa tau dia punya perlu” Tambah Fika sambil menarik lenganku
“Mbak, ini kayaknya dompet mbak yang terjatuh 2 bulan lalu” Ucap anak itu
Aku terpesona masih belum menyadari apa yang terjadi. Tanpa terasa air mataku menetes
Mengingat sikapku selama ini.

“Mbak ngapain senyum-senyum” Ucap Rifki, bocah pengamen yang menemukan dompertku 5 tahun yang lalu. Setelah kejadian itu aku meminta mama untuk mengadopsinya sebagai adik angkatku dan sekarang Rifki Sudah sekolah kelas 3 SMA
“Mbak ga papa ko, cepet gih ganti baju habis itu makan”. Ucapku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar