Selasa, 24 Mei 2011

NABILA

Alam sekeliling tiba-tiba terasa berputar. Umi menatapku dengan pandangan kosong, aku semakin menunduk perasaan bersalah kian menghantuiku. Maafkan aku Umi, bisikku dalam hati
“Sayang, turutilah apa kata Abi. Semua itu demi kebaikanmu, percayalah sama Umi”Ucap Umi sambil membelai rambutku
“Ga, Mi. Aku tidak mencintai ustad itu,yang aku cintai Dito Mi.Umi tau itu kan?”
Ucapku menolak permintaan Umi
Abi tau aku tidak mungkin menikah dalam usia semuda ini-20 tahun,masih banyak yang ingin aku capai tapi Abi tidak peduli dia tetap bersikeras menjodohkanku dengan ustad Irfan dengan alasan Dito bukan lelaki yang baik.
“Abi tau dari mana Dito ga baik Bi?Abi kan belum kenal dia?”Ucapku dengan
suara tertahan
“Sudahlah Bil, tidak perlu membantah apa yang Abi ucapkan”
Selalu seperti itu Abi tidak pernah mau mendengarkan ucapanku. Aku berlari kekamarku percuma ngomong sama Abi.
Sepulang kuliah aku bergegas kerumah Dito, ada banyak hal yang ingin kuceritakan padanya.
“Nabila?Tumben kesini?Tanya Dito
“lagi sumpek dirumah”Ucapku

Perlahan kucoba mengangkat kepalaku, kulihat mata Umi mulai berair.
“Umi maafkan Bila, Bila tau Bila salah Mi”Ucapku sambil menahan tangis
“Sudahlah, Semua sudah terlanjur” Ucap Umi

Sepulang dari rumah Dito, aku langsung masuk kamar. Air mata yang kutahan sejak tadi mengalir. Tak kusangka Dito tega merebut kesucianku. Ternyata benar kata Abi, Dito bukan lelaki yang baik.
“Sayang kamu kenapa, Aku lihat sejak seminggu ini mukamu pucat?”Ucap Umi pagi itu.
“Ga papa Mi, Cuma lagi kecapean aja”Ucapku berbohong

Huek, huek
Aku buru-buru kekamar mandi.
“Sayang, kamu kenapa?ga mungkin kamu masuk angin tiap hari apalagi cuma kecapean. Jangan bilang kau hamil” Ucap Umi
“Maafkan Bila Mi”Ucapku
“apa?Bila hamil?”Teriak Abi dari belakang.
Aku berlari kearah Abi. “Maafkan aku Bi” Ucapku sambil terisak
Kulihat Abi memegang dada.
“Bila”ucap Abi lirih

“Kami sudah berusaha tapi takdir berkata lain”Ucap dokter itu
Alam sekeliling tiba-tiba terasa berputar. Umi menatapku dengan pandangan kosong, aku semakin menunduk perasaan bersalah kian menghantuiku. Maafkan aku Umi, bisikku dalam hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar